AGRO LAWU

Kumpulan Artikel Tentang Budidaya Buah Naga dan Jamur Tiram

Naga Merah Peluang dihalaman

Posted by suwardi10 pada Maret 11, 2009

CERITA INI BERMULA PADA 1991. BERBEKAL SETAS PAKAIAN ANANTA PRAMUDYA KUSUMANINGRAT DAN ISTRI MEMUTUSKAN HIJRAH DARI SOLO KE KEDIRI. MEREKA BARU SAJA MENIKAH DAN ANANTA BERTEKAD MENAFKAHI SENDIRI KELUARGA BARUNYA. DI JALAN PATTIMURA MEREKA MENGONTRAK RUMAH KECIL SEDERHANA. MENITI USAHA DI TEMPAT BARU TERNYATA TAK MUDAH. KIRIMAN ORANGTUA DI SENILAI RP10.000 PER HARI PUN JADI MODAL BERTAHAN HIDUP. ANEKA USAHA YANG DIJALANKAN BERUJUNG KE KEBUN BUAH. KINI 18 TAHUN BERSELANG, OMZET KI DEMANG-SAPAAN ANANTA DARI BERKEBUN BUAH NAGA MINIMAL RP200-JUTA PER BULAN.

Di halaman belakang seluas 2.500 m2 Trubus melihat 750 tiang beton terpancang rapi berjarak tanam 2 m x 1 m. Pada setiap tiang ditambatkan 4 batang dragon fruit yang kini berumur 8 tahun. Buah bulat berukuran lebih besar daripada bola tenis berwarna hijau-belum matang-menempel di sulur-sulurnya. Demang memanen kaktus madu itu jika sudah matang pohon 2 hari sekali. Produksi rata-rata tiap batang 5 kg buah per musim, antara November-April. Berarti selama musim raya dituai 15 ton buah dari halaman belakang rumah bekas lokasi kandang ayam-usaha kesekian yang gulung tikar.

Dari panen 400 kg per minggu pria yang pernah membuka warung nasi dan ayam bakar itu menyetor ke pasar swalayan di Surabaya. Harga diterima Rp20.000-Rp25.000 per kg sehingga omzetnya Rp8-juta-Rp10-juta per minggu atau Rp32-juta-Rp40-juta per bulan. Sarjana Hukum dari Universitas Muhammadiyah Surakarta itu juga menjajakan buah di 3 pusat perbelanjaan di Kota Kediri, Jawa Timur, menggunakan 3 pick up. Buah diambil dari kebun sendiri plus setoran kebun mitra. Dari penjualan langsung rata-rata 130 kg terjual per hari dengan harga Rp50.000 per kg. Artinya ada tambahan pemasukan Rp6,5-juta per hari atau Rp195-juta per bulan.

Tiang jemuran
Yang juga mendulang rupiah dari buah naga ialah Mohammad Yasin di Malang, Jawa Timur. Di halaman belakang seluas 2.500 m2 ada 3 baris buah naga berjarak masing-masing 3 m. Total jenderal 3.000 tanaman dibudidayakan dengan sistem jemuran. Maksudnya buah naga dirambatkan pada batang-batang bambu yang ditopang beton. Bukan disandarkan empat-empat atau tiga-tiga di tiang pancang. Pada Desember 2008 Yasin menuai 80 kg. Pria 65 tahun itu pantas sumringah. Itulah panen perdana rhino fruit di kebun itu. Pada 26 Januari 2009 mantan karyawan perusahaan gula itu kembali memanen buah. Jumlahnya 150 kg.

Naga berdaging merah itu ditampung pengepul. Harganya Rp15.000 per kg buah berbobot di atas 400 g dan Rp7.500 per kg jika bobotnya kurang dari 300 g. Dari 2 kali panen, 70% buah masuk kelas pertama. Yasin pun mendulang Rp3-juta dari 2 kali panen. Padahal eden fruit-buah surga-itu bakal terus dipetik hingga usai musim panen pada April.

Nun di Banjarnegara, Jawa Tengah, Sutrisno menancapkan 400 tiang penopang 1.600 buah naga pada 2005. Sejak 2 tahun silam ia memanen 400 kg buah per minggu pada periode November-Juni. Hasil panen disetor kepada pengepul di Yogyakarta dengan harga Rp18.000-Rp24.000 per kg. Minimal Rp7,2-juta per minggu pun masuk ke sakunya. Pendapatan menggiurkan itu membuat Sukarjo berani mengebunkan thang loy itu di lahan seluas 2.500 m2. Dari sanalah mantan petani padi itu memperoleh omzet Rp5,4-juta per minggu setara Rp21,4-juta per bulan. ‘Kehidupan saya sekarang berubah,’ tutur Sukarjo.

Merah super
Penelusuran Trubus menunjukkan di berbagai daerah bermunculan pekebun-pekebun buah naga baru. Sekadar menyebut contoh Endro Djoenaidi (Bekasi), Sinatra Hardjadinata dan Dedy Hariyanto (Bogor), AE Dhamayanti SE MKes, Dr Paulus Tribrata Budiharjo MTh MM, dan Letjen (Purn) Soeyono (Yogyakarta), Imam Hambali (Kediri), serta Arifin Sobirin (Batam). Luasan kebun bervariasi mulai 1.000 m2 hingga hektaran.

Tak ada angka baku skala ekonomis mengebunkan buah naga. Namun, hitung-hitungan Ki Demang bisa jadi gambaran. Misal pekebun punya lahan 500 m2. Ia butuh modal Rp75-juta untuk penanaman 1.000 batang buah naga. Asumsinya ketika panen-mulai umur 1 tahun pascatanam-setiap batang menghasilkan 5 kg per tahun. Jika harga jual buah Rp16.000 per kg diperoleh pendapatan Rp80-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp8.000 per kg, pekebun masih mengantongi keuntungan Rp40-juta per tahun.

Berapa pun luasan yang dikelola, para pekebun itu punya persamaan: mereka mengembangkan buah surga berdaging merah pekat Hylocereus costaricensis. Pekebun menyebutnya superred. Itu untuk membedakan dengan buah naga berdaging merah H. polyrhizus. Superred lebih manis tanpa rasa langu, sedangkan polyrhizus agak masam dan langu. Pantas superred jadi pilihan pekebun. Lalu bagaimana dengan buah naga daging putih H. undatus? Pitaya yang banyak dikebunkan pada awal 2000-ketika buah naga mulai dibudidayakan di tanahair-itu kini mulai ditinggalkan pekebun.

‘Buah naga daging putih termasuk barang generik,’ kata Ir Iwan Gunawan Rory MBA, global sourcing manager PT Sewu Segar Nusantara-pemasok buah-buahan. Buah generik sulit didongkrak nilai tambahnya meski dipoles. Si putih pun dianggap sebagai experience fruit. Konsumen membeli karena penasaran. Jika sekali mencicipi rasanya tidak pas di lidah, tidak terjadi pembelian ulang.

Berbarengan dengan itu, harga si putih melorot tajam. Pada era 2003 di tingkat konsumen bisa mencapai Rp30.000 per kg. Sekarang Rp10.000 per kg. Penurunan itu karena banyak impor membanjiri pasar lokal dengan harga lebih murah. Bandingkan dengan si super merah yang di tingkat ritel nilai jualnya Rp40.000-Rp47.000 per kg. Maka beralasan jika Sapta Surya-pionir penanaman buah naga di Indonesia-secara bertahap mengganti penanaman undatus dengan si merah pekat.

Itu sejalan dengan minat konsumen yang kian melirik naga merah. Mereka percaya feuy long kwa itu berkhasiat buat kesehatan tubuh. Kepercayaan konsumen didukung riset yang menunjukkan buah naga merah pengontrol kolesterol dan diabetes. (baca: Sehat Itu Enak halaman 22)

Kawin malam
Namun, memilih superred bukan berarti jalan lempang membentang di hadapan pekebun. Soeyono mesti memendam keinginan menuai buah naga daging merah dari kebun di tepi jalan penghubung Yogyakarta-Solo. Sebanyak 240 pot beton berisi masing-masing 3 batang buah naga merah hingga sekarang malas berbuah. ‘Padahal bunganya banyak,’ tutur mantan Sekjen Departemen Pertahanan itu.

Berbagai cara ditempuh untuk meningkatkan fruitset. Rumadi-pekebun yang dipercaya Soeyono-membenamkan pupuk buah dengan kandungan fosfat tinggi. Pada setiap pot dipasang payung untuk melindungi bunga yang tengah mekar dari guyuran hujan. Namun, cara itu tak kunjung berhasil.

Supaya keberhasilan buah tinggi Paulus Tribrata Budiharjo dan AE Dhamayanti di Yogyakarta melakukan penyerbukan bunga. Untuk itu mereka rela memangkas waktu tidur lantaran bunga mekar pada malam hari. Terbukti produktivitas di kebun Paulus di Glagah sangat tinggi. Rata-rata setiap tanaman menghasilkan 20 kg per musim. Produktivitas di kebun lain 5 kg per tanaman per musim. Produksi menjulang juga diduga sumbangsih varietas yang ditanam. (baca: Supergenjah dari Glagah halaman 18) Batu sandungan lain, serangan kelelawar dan lalat buah. Makanya Imam Hambali membungkus buah dengan plastik transparan. Jika tidak buah tak layak panen.

Jembatan Balerang
Bila onak-duri berkebun bisa dilalui peluang pasar pun membentang. ‘Kans pasar buah naga daging merah lebih baik daripada daging putih,’ tutur Iwan Gunawan. Warna merah pitahaya roja dikaitkan dengan kaya antioksidan yang baik buat kesehatan. Merah juga berarti rezeki atau keberuntungan dalam budaya etnis Tionghoa-mayoritas pembeli buah naga. Makanya volume penjualan superred di toko buah Hokky di Surabaya meningkat dari 50 kg per hari jadi 500-600 kg pada Imlek. ‘Lagipula banyak orang yang belum kenal bisa jadi target pasar,’ lanjut Iwan.

Pertama kali panen, Arifin Sobirin mesti memaksa-maksa pedagang jagung bakar di Jembatan Balerang, Kepulauan Riau, supaya mau dititipi buah naga. ‘Kini mereka (para pedagang, red) yang minta terus,’ ujar pemilik nurseri adenium itu. Rupanya banyak pelancong yang melewati jembatan penghubung 3 pulau besar Batam-Rempang-Galang sepanjang 2.264 m itu membeli buah naga sembari beristirahat sebelum meneruskan perjalanan mereka.

Sinatra membuka pasar dengan menawarkan kerja sama dengan Theresia Sianawati. Kebetulan rekannya itu punya kantin di sebuah rumahsakit di Jakarta Utara. Dengan label organik buah naga merah yang dijajakan cepat terjual. Kejadian serupa dialami Dedy Hariyanto.

Djoenaidi menolak memasok ke pasar swalayan. Musababnya, setiap kali panen buah naga dari kebun sudah diantre. Waktu Trubus berkunjung pada 3 Februari 2009 ia baru saja memanen 182 kg buah. Buah dikemas dalam plastik isi 5 kg atau 10 kg. Sembari pulang ke kediamannya di Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Djoenaidi mendrop satu-satu ke rumah para pemesan.

Lantaran permintaan besar, Dedy Hariyanto berencana menambah 200 tiang dari 200 tiang yang ada. Paulus, Ki Demang, dan Jolosutro Nusantoro membuka kemitraan. Nantinya boleh jadi akan banyak yang merasa bersyukur seperti Ki Demang. Berkat buah surga Hyundai Trajet keluaran 2001 dan Jeep Willis siap mengantarnya ke sana-ke mari. Dua hektar lahan di kaki Gunung Wilis jadi investasi. Gelar master bidang Ilmu Sosial Politik dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Manajemen Pertanian di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pun direngkuh. Semua karena naga merah. (Evy Syariefa/Peliput: Argohartono A Raharjo, Ari Chaidir, Destika Cahyana, Faiz Yajri, Imam Wiguna, & Rosy Nur Apriyanti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: