AGRO LAWU

Kumpulan Artikel Tentang Budidaya Buah Naga dan Jamur Tiram

  • INDONESIA

  • Kategori

  • Arsip

  • Iklan

Supergenjah dari gelagah

Posted by suwardi10 pada Maret 11, 2009

16281
Oleh trubusid_admindb
Sabtu, Maret 07, 2009 01:13:14 Klik: 288

‘SAYA INGIN YANG UMURNYA PENDEK, RASANYA ENAK, DAN PRODUKTIVITAS TINGGI,’ KATA PAULUS TRIBRATA BUDIHARJO SAAT PERTAMA KALI BERNIAT MENGEBUNKAN BUAH NAGA 8 TAHUN SILAM. SAYANGNYA WAKTU STUDI BANDING KE SEBUAH KEBUN DI JEMBER, DRAGON FRUIT JUSTRU BARU BELAJAR BERBUAH SETELAH 2 TAHUN. PEKEBUN LAIN RATA-RATA MULAI PANEN UMUR 1 TAHUN PASCATANAM.

Bukannya surut, niat Paulus berkebun malah lebih menggebu. Soalnya ia punya hitung-hitungan menggiurkan di atas kertas. Dengan populasi 2.000 tiang atau sekitar 8.000 batang biaya investasi per hektar mencapai Rp1-miliar. Pada panen perdana umur 1 tahun dituai 80 kg per tiang. Bila harga jual ke konsumen langsung Rp30.000 per kg berarti omzet didapat Rp4,8-miliar.

Supaya hitung-hitungan jadi kenyataan, bibit yang ditanam mesti unggul. Ya itu tadi, umur genjah, rasa buah enak, dan produktivitas tinggi. ‘Sayang varietas yang tersedia belum ada yang seperti itu,’ kata Paulus. Demi mendapat varietas idaman, doktor manajemen dari Universitas Honolulu, Hawaii itu bertekad menghasilkan sendiri lewat penyilangan.

Lantaran buta ilmu pemuliaan tanaman, Paulus rajin membuka literatur. Ia juga berkonsultasi dengan sang kakak yang peneliti di Sentra Penelitian Perkebunan Jember. Langkah berikutnya, pada 2001 master bidang teologi itu terbang ke Vietnam dan Thailand-dragon fruit berkembang pesat di sana. Tujuannya mencari buah naga ‘asli’ untuk dikembangkan jadi indukan.

Pilih biji
Dari Vietnam dan Thailand, Paulus membawa pulang masing-masing 10 buah naga daging putih Hylocereus undatus, daging merah biasa Hylocereus polyrhizus, dan merah super Hylocereus costaricensis. Ketiga jenis itu lazim dibudidayakan.

Tiba di Yogyakarta-kediamannya-biji dipisahkan dari daging buah. Satu buah menghasilkan 1.500-2.500 biji. Biji-biji itu disemai bertahap. Sayang 3 kali percobaan, biji gagal berkecambah. Baru ketika ke dalam media ditambahkan hormon berbahan urin sapi bunting, biji berhasil mentis. ‘Urin sapi kaya kandungan amonia. Amonia terurai menjadi nitrat dan nitrit yang dibutuhkan tanaman,’ katanya menirukan anjuran sang kakak.

Ketika kecambah setinggi 3-4 cm, bibit dipindahkan ke dalam polibag. Total jenderal didapat 8 bibit daging putih, 15 daging merah, dan 20 daging merah super calon tanaman induk. Sembilan bulan kemudian tanaman induk belajar berbunga dan berbuah. Proses penyilangan dilakukan musim buah tahun ke-2 saat jumlah bunga yang mekar serempak lebih banyak.

Itulah saat-saat ketika Paulus merelakan waktu tidurnya untuk datang ke kebun. Ketika kebanyakan orang mulai terlelap, ia justru terjaga. ‘Bunga mekar sempurna jam 12 malam. Itu saat terbaik untuk penyilangan, persentase keberhasilannya tinggi, mencapai 85% lebih,’ kata pengajar di Sekolah Tinggi Teologi BKWI itu.

Dengan bantuan penerangan senter dan bersenjatakan kuas di tangan, Paulus cekatan memindahkan serbuk sari dari 1 bunga ke putik bunga lain. Begitu seterusnya hingga semua bunga mekar selesai disilangkan. Penyilangan dilakukan secara acak antara ketiga indukan.

Varietas genjah
Sembilan bulan kemudian, buah hasil penyilangan dipanen. Sayang, semua buah yang didapat mutunya masih di bawah superred. Rasa agak asam dan warna merah pucat. Pantang menyerah, biji buah hasil persilangan itu ditanam lagi. Setelah mulai berbunga, disilangkan kembali. Kali ini Paulus bisa sumringah, jerih payahnya terbayar.

Dari penyilangan itu didapat 7 varietas supergenjah. Umur 6-7 bulan tanaman berbunga. Selang 45-50 hari berikutnya buah dipanen. Buah naga lain, rata-rata berbunga umur 8-10 bulan dan buah siap dituai 50-55 hari kemudian. Enam di antaranya berdaging merah. Saat ini Paulus menanam buah naga baru itu di lahan seluas 5 ha di tepi Pantai Glagah-40 km arah barat daya kota Yogyakarta. Di atas lahan pasir itu 40.000 batang bersandar pada 10.000 tiang beton berjarak 2,5 m x 2 m. Pada panen perdana September 2003-Mei 2004 produktivitas rata-rata mencapai 80-120 kg/tiang. Di musim kedua naik jadi 180-230 kg/tiang, lantaran percabangan makin rimbun.

Produksi kebun Glagah jelas sangat tinggi dibanding produktivitas kebun orang lain yang rata-rata 10-15 kg per tiang. Diduga kebiasaan Paulus membantu penyerbukan setiap kali ada bunga mekar mendongkrak produksi buah.

Apel manalagi
Penampilan rhino fruit anyar itu pun menarik. Paulus memberi julukan supergejah I hingga supergenjah VII. Rata-rata berbobot 500-900 g per buah, bahkan ada yang mencapai 1,25 kg per buah. Buah naga lazimnya berbobot 200-400 g per buah. Supergenjah I bentuknya bulat dan susunan sisiknya seperti kelopak mawar. Bila dicicipi tercecap rasa manis yang lengket.

Tampilan itu berbeda dengan supergenjah II yang bersosok bongsor. Inilah si jumbo dengan bobot hingga 1,25 kg/buah. Yang berwarna paling elok supergenjah IV. Kulitnya merah kekuning-kuningan seperti apel manalagi. Sementara supergenjah VII adalah si daging putih. Bedanya dengan daging putih biasa, rasanya lebih manis, 14-16o briks. Daging putih biasa hanya 10-13o briks.

Nun di Blitar juga ada buah naga berkulit kuning dengan daging jingga. Poni Susilo, si empunya kebun, mendapatkannya tanpa sengaja dari 8 bibit buah naga kulit kuning daging putih Selenicereus megalanthus. Si kuning berdaging jingga diduga hasil persilangan alami antara H. polyrhizus dan S. megalanthus di kebun pembibitan milik Haryanto.

Dugaan itu karena kulit si daging jingga ‘bersisik’ mirip polyrhizus. Megalanthus lazimnya tanpa ‘sisik’ tapi punya duri. Daging buah yang jingga diduga paduan keduanya-polyrhizus merah dan megalanthus putih.

Di kebun di Mojokerto, Haryanto menanam beragam jenis buah naga secara berdampingan. Dengan posisi seperti itu, ‘Ada peluang terjadi penyilangan dengan bantuan angin atau serangga yang membawa serbuk sari ke bunga lain,’ kata Dr Moh Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor. Kehadiran naga-naga baru dari Glagah-pun Blitar-membawa angin segar buat calon pekebun. Kini banyak pilihan untuk dikebunkan. (Ari Chaidir/Peliput: Imam Wiguna dan Laksita Wijayanti)

Iklan

Satu Tanggapan to “Supergenjah dari gelagah”

  1. AryZ said

    Waow, hebat. pjuangan pak paulus, salut. Yg d Srengat Blitar skarang jg berkembang pesat. Smg bs melecut smangat para petani buah naga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: